PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia merilis survei penetrasi (EV) di area tempat Indonesia. Hasilnya, masih banyak orang Indonesia ragu terhadap kendaraan listrik.
Survei itu bertajuk Indonesia Electric Vehicle Consumer Survey 2023. Hasil survei ini dikembangkan pada Juni – September 2023 terhadap konsumen Indonesia di dalam tempat delapan kota besar kemudian lintas generasi.
Sebanyak 87 persen responden yakin bahwa EV tambahan ramah lingkungan. Sebagian besar responden juga setuju bahwa EV adalah kendaraan masa depan, terutama lantaran keresahan terhadap perubahan iklim semakin meningkat kemudian teknologi EV semakin mudah diakses.
Kendati demikian keraguan konsumen masih terlihat, terutama terkait ketersediaan infrastruktur. Responden merasa khawatir terhadap ketersediaan stasiun pengisian untuk kendaraan listrik, baik untuk mobil (63 persen) maupun sepeda motor (52 persen).
Kekhawatiran responden lainnya adalah ketersediaan stasiun pengisian daya kendaraan listrik dalam daerah terpencil, dimana untuk mobil (54 persen) kemudian juga sepeda motor(47 persen).
Hal ini menunjukkan perlunya infrastruktur pengisian daya yang digunakan dimaksud merata untuk memenuhi keresahan konsumen. Walaupun daya tarik EV semakin besar, kegelisahan konsumen dapat memengaruhi tingkat adopsi EV secara signifikan.
Hal ini termasuk biaya pemeliharaan yang yang mungkin menjadi mahal dalam jangka panjang: 87 persen responden paling khawatir terhadap biaya penggantian baterai.
Selain itu sebanyak 83 persen mengkhawatirkan nilai tukar jual suku cadang, 66 persen khawatir terhadap pengeluaran tak terduga, lalu juga 59 persen mengkhawatirkan biaya perawatan rutin.
“Pemahaman yang dimaksud lebih besar besar mendalam mengenai kecemasan ini sangat penting bagi produsen, pembuat kebijakan, juga pemangku kepentingan lainnya, agar dapat memenuhi tuntutan serta kebutuhan konsumen di tempat tempat Indonesia secara efektif,” PwC Indonesia Automotive Leader Hendra Lie dalam siaran resminya.
Pengisian daya adalah salah satu pertanyaan paling penting saat mempertimbangkan sebuah EV untuk pertama kalinya: 75 persen responden tambahan lanjut memilih untuk mengisi ulang kendaraan dia pada stasiun pengisian terdekat.
Sementara 69 persen responden tambahan memilih untuk mengisi ulang kendaraan merek di area tempat rumah, namun hal ini menimbulkan pertimbangan baru mengenai kenaikan tagihan listrik.
Kendati demikian sebagian besar responden berpendapat EV adalah kendaraan masa depan.
Hendra mengatakan pasar kendaraan listrik (EV) diperkirakan akan tumbuh dalam beberapa tahun ke depan sebab kesadaran konsumen terhadap kendaraan ramah lingkungan lalu insentif pemerintah.
“Namun, adopsi EV di tempat dalam Indonesia tambahan banyak lambat dibandingkan dalam pasar global,” katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (17/10).
Oleh dikarenakan itu, kata dia, para pemimpin industri lalu pembuat kebijakan sedang mempersiapkan masa depan di tempat area mana kendaraan ramah lingkungan dapat memainkan peran utama di dalam area pasar.
Ia menilai permintaan untuk mengakomodasi tuntutan terhadap isu keberlanjutan terjadi akibat adanya tuntutan mendesak terhadap perubahan iklim.
Setidaknya, ada tiga aspek penilaian kepada responden terhadap EV yang mana dipetakan oleh PwC Indonesia. Di antaranya pengumuman yang tersebut mana lebih tinggi lanjut senyap 85 persen, teknologi inovatif 76 persen, juga aspek menarik yang yang disebut belum pernah ada 82 persen.
Hal itu adalah tiga fitur utama EV yang tersebut digunakan bukan dapat ditiru pada kendaraan berbahan bakar fosil.



